Saya tidak terlalu berharap kamu membaca curahan hati saya ini, saya takut kamu semakin membenci saya, bukan tujuan saya. ...
Dear diary... Tepatnya kemarin perasaan ini berantakan. Antara malu, sedih, kecewa dan sedikit bahagia.
Saya malu lantaran saya mengetahui semua isi hati dia yg telah lama dia pendam, kemudian dia ungkapkan kemarin, dia mengatakan bahwa dia sudah tidak ada rasa lagi dengan saya, sedangkan saya masih mengaharapkan dia, terkesan saya mengganggu kehidupan barunya. Tapi jujur saya masih sayang dia.
Kemudian saya sedih dan kecewa. Karena saat ini dia sudah memiliki kekasih hati barunya, saya cemburu, bahwasannya pada saat ini posisi saya sudah digantikan oleh orang lain, saya tak ingin hal itu terjadi. Saya marah, saya kecewa. Tapi sudah tidak ada hak lagi u/ marah dan kecewa dengan dia, kemarin dia begitu kasar ngomong ke saya. Banyak kata-katanya yg membuat saya tersinggung.Apakah dia berfikir pd saat itu... Dia membuat saya sakit, air mata lah yg membuktikan bahwa saya sakithati dan kecewa, tp kenapa dia ngerti, kenapa dia gak minta maaf. Saya tau dia terlalu kecewa dengan saya, tapi gak seperti itu dia membalasnya. Saya gak bisa kalau harus lost kontak dengan dia, jujur saya gak bisa, apa harus saya memohon dihadapannya kemudia sujud u/ memohon jangan lakukan seperti itu. Lebih baik ditinggal mati, daripada harus ditinggal bahagia dengan oranglain. Saya sakit, ini dia membunuh saya dengan berlahan.saya terima itu, saya rela mati karna dibunuh berlahan dengan dia.. Saya terlalu sakit. Semenjak perpisahan kita, mungkin dia beranggapan bahwa saya bahagia. Saya tidak bahagia.
Jika dia sudah memiliki seseorang yg buat dia bahagia, saya harus kuat dan tegar, saya ikut bahagia walau hati saya terluka. Sudah tak terhitung berapa banyak air mati untuk menangisi dia, saya menyesal. Srbenarnya saya gak kuat menyaksikan dia bahagia dengan oranglain. Gak ada seorangpun yg bisa gantikan dia.
Mungkin saya harus melupakan segala kenangan ini u/ selamanya, ntah seberapa lama saya bertahan diatas kebahagian dia. Sejauh ini saya harus menampilkan bahwa saya tegar, dan kuat, saya tak ingin menganggu hubungan mereka. Saya rela saya sakit demi dia, agar dia bahagia. Saya menerima semua kenyataan yg ada. Saya harus ikhlas tapi saya tidak bisa.
Maafkan saya.. Saya menangisi kebahagiaan kamu.
Saya menyerah, saya sudah bisa berbuat apa'apa lagi u/ mendapatkan anda. Saya menyerah... Saya gak sanggup, biarlah airmata ini yg menjadi saksi bahwa saya sakit.
Rabu, 02 April 2014
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar